
Seperti biasanya, jam bermain TK Harapan Bunda selalu ramai. Anak-anak bermain dengan temannya masing-masing. Dade, Sinta, Vania, Lusi dan Gevi tengah bermain prosotan. Rein dan Dewik main jungkat jungkit. Anto main kejar-kejaran sama Indra. Beno dan Yudi main perang-perangan
Sementara itu Zuck, Linn, Nivi, Louse, Bobi, Irgi, Eni dan Ara asik main petak umpet.
"Main petak umpetnya jangan pake ngumpet-ngumpet
"Kita main ayunan aja yuk, Dek," ajak Zuck.
Linn tak menolak. Mereka kemudian melangkah menuju ayunan.
Persahabatan keduanya memang lengket banget kayak getah pisang nempel di baju. Banyak persamaan pada keduanya, di antaranya sama-sama sekolah di TK yang sama dan sama-sama takut sama ular. Linn-lah yang membuat Zuck bersemangat pergi ke sekolah tiap pagi. Begitupun sebaliknya. Hanya di TK tersebut mereka bisa bertemu. Rumah mereka berjauhan.
"Bu Eren kayak orang gila ya, Mas. Ketawa tawa sendiri, hihihi..." kata Linn demi melihat Bu Eren, guru TK mereka yang sedang teleponan sama pacarnya di sudut TK.
"Mungkin dia lagi ngobrol sama calon suaminya," jelas Zuck, sambil menarik dan mendorong ayunan yang ditempati Linn dengan hati-hati.
"Kok Mas Zuck tau?" tanya Linn. Menoleh sebentar ke arah Zuck.
"Kata mama calon suaminya Bu Eren seorang dokter," Zuck mendorong ayunan Linn kali ini lebih bertenaga.
"Jangan kenceng-kenceng
"Hehehe takut ya?"
"Aku juga nanti udah besar mau dokter," celoteh Linn. "Kalo Mas Zuck udah besar mau jadi apa?"
Zuck berhenti mendorong ayunan Linn. Ia duduk di ayunan satunya lagi. "Kalo aku... Aku mau jadi seseorang yang melingkarkan cicin di jari manismu..."
Linn kecil menatap Zuck tak mengerti. "Supaya apa?"
"Itu namanya menikah. Supaya kita bisa berteman dan hidup bersama-sama sampai tua."
"Sampai tua? Ih senangnya, hihihi.." Linn tertawa lebar, memperlihatkan gigi tengahnya yang ompong dua.
Zuck juga tertawa.
"Di sini mulai panas. Kita main di bawah pohon jambu air itu aja yuk, Mas?" Linn menunjuk pohon jambu air di samping gedung sekolah.
Zuck mengangguk setuju. Kemudian meraih tangan Linn dan dibawanya berlari-lari kecil meninggalkan ayunan, menuju pohon jambu air yang tengah berbunga lebat.
"Tapi emangnya boleh Linn menikah sama Mas Zuck? Kita kan bukan saudara? Semua orang menikah dengan keluarganya sendiri. Abangku menikahi Kakakku, Ibu menikahnya sama Ayahku, O'om-nya aku juga nikahnya dengan Tanteku?" tanya Linn sesampainya di bawah pohon jambu air. Suaranya agak sedih.
"Emm.. Iya juga, yah?" Zuck ikut sedih. "Kakekku juga nikahnya sama Nenekku. Mereka nikahnya sama saudara sendiri."
"Tapi aku ga mau nikah sama adikku. Dia nakal, suka minta mainan Linn. Kalo ga dikasih nangis."
"Sama! Aku juga ga mau menikah sama saudaraku, dia laki-laki, namanya Bambang. Aku maunya sama perempuan. Kamu..."
Linn tersenyum manis. "Kalo ga dibolehin?"
"Aku nangis."
"Ih.. Kata Ibu, anak laki-laki ga boleh cengeng."
"Iya sik. Ga boleh nangis," jawab Zuck pelan.
Beberapa saat keduanya diam, menikmati angin sepoi-sepoi yang tiba-tiba datang, mengibarkan bendera di halaman sekolah. Menggoyangkan pohon akasia, juga pohon jambu air tempat Zuck dan Linn bernaung. Zuck mengusap-ngusap
"Eh itu udah ada yang jadi buah."
"Mana, Mas?" Linn mendongak ke atas. Benar. Di antara bunga-bunganya yang banyak, ada beberapa yang telah menjadi buah. Warnanya merah, seperti bibir Linn.
"Linn mau?" tanya Zuck.
"Mau, Mas, mau banget. Udah sehari ga makan jambu air," sahut Linn dengan suka cita.
"Aku ambilin ya?"
"Giamana Mas cara ngambilnya?"
"Aku panjat."
"Ih jangaaan! Nanti jatuh gimana? Kalo ketahuan Ibu Eren juga dimarahin..."
"Enggaklah," Zuck ga peduli. Ia segera menaiki pohon jambu demi mengambilkan buahnya untuk Linn.
"Hati-hati Mas..." seru Linn dari bawah.
Walau dengan sedikit susah payah, tapi akhirnya Zuck berhasil memetik buah jambu yang letaknya lumayan di pucuk. Setelah itu ia pun turun.
Menjelang semeter lagi menginjak daratan, tiba-tiba... Jebrett!!! Dahan yang Zuck pijak sempal! Lalu kakinya terjegal dahan di bawah dahan yang patah tadi. Hasilnya jelas, Zuck terpelanting ke tanah dengan posisi kepala duluan. BEUKHH! Begitu bunyinya!
Linn menjerit kecil dan berlari mendekati Zuck. "Kamu ga apa-apa, Mas?"
Zuck memegangi kepalanya sambil meringis kesakitan. Ia menggeleng lemah. Ia ingat anak laki-laki ga boleh cengeng.
"Kan udah dibilangin jangan manjat. Bandel sih," Linn memarahi Zuck. "Linn takut Mas jatuh, trus sakit, trus ga bisa sekolah, trus nanti ga ada yang nemenin Linn main."
"Kan ngambilin ini, buat kamu," Zuck memberikan jambu di tangannya. Sambil tetap meringis kesakitan.
Linn tak memperdulikan jambu tersebut. Di pegangnya kepala Zuck, kemudian dihembus-hembus
Zuck tersenyum di antara sakit, tapi memang sakit di kepalanya sudah jauh berkurang.
"Aku salah jatuh tadi," katanya, sambil memandangi pohon jambu yang telah menjatuhkannya barusan.
"Iya Mas. Harusnya jangan kepala duluan."
Zuck mengangguk-angg
Linn tercengang beberapa saat. "Mas?! Ngapain manjat lagi?!! Jangaan!"
"Yang tadi itu aku salah jatuh, Dek. Aku harus mengulang jatuh lagi dengan cara yang benar!" seru Zuck di ketinggian satu meter, kemudian melompat menjatuhkan diri. DUGH! Bunyi dengkul Zuck berbenturan dengan tanah.
"Adududuh..." rintih Zuck memegangi dengkulnya yang terasa nyeri. (Mudah-mudahan dia tidak sampai mengalami gegar otak)
Sementara Linn, sudah pingsan sejak beberapa detik yang tadi.