Tingkah anak memang menggemaskan dan lucu, di rumah maupun di sekolah.
Jika di sekolah tingkah lucu apa aja yang mereka perbuat?
Berikut ceritanya..
Cerita pendek anak bersama guru di sekolah
Semoga terhibur ^_^

Jika di sekolah tingkah lucu apa aja yang mereka perbuat?
Berikut ceritanya..
Cerita pendek anak bersama guru di sekolah
Semoga terhibur ^_^
KUDA LARI
Di sebuah Taman Kanak-Kanak sedang ada pelajaran menggambar.
Ibu guru sedang asyik melihat muridnya menggambar, tetapi si Bono hanya memandangi halaman yang kosong saja.
Guru : “Bono, kau gambar apa? Kok kertasnya masih kosong?”
Bono : “Kuda makan rumput, Bu Guru.”
Guru : “Mana rumputnya?”
Bono : “Dimakan kuda, Bu.”
Guru : “Lalu kudanya mana?”
Bono : “Udah lari, Bu! Habis Ibu berisik sih!”
Di sebuah Taman Kanak-Kanak sedang ada pelajaran menggambar.
Ibu guru sedang asyik melihat muridnya menggambar, tetapi si Bono hanya memandangi halaman yang kosong saja.
Guru : “Bono, kau gambar apa? Kok kertasnya masih kosong?”
Bono : “Kuda makan rumput, Bu Guru.”
Guru : “Mana rumputnya?”
Bono : “Dimakan kuda, Bu.”
Guru : “Lalu kudanya mana?”
Bono : “Udah lari, Bu! Habis Ibu berisik sih!”
KESALAHAN
Karena buru-buru mengantar anaknya yang gres kelas 1 SD ke sekolah, seorang ayah berbelok ke kanan di perempatan padahal ketika itu lampu lalu lintas menyala merah. “gawat, Nak! Ayah gres saja melanggar lampu merah!” kata sang Ayah. “Tidak apa-apa, Yah!” kata anaknya, “Polisi di belakang kita gres saja melaksanakan kesalahan yang sama.”
Karena buru-buru mengantar anaknya yang gres kelas 1 SD ke sekolah, seorang ayah berbelok ke kanan di perempatan padahal ketika itu lampu lalu lintas menyala merah. “gawat, Nak! Ayah gres saja melanggar lampu merah!” kata sang Ayah. “Tidak apa-apa, Yah!” kata anaknya, “Polisi di belakang kita gres saja melaksanakan kesalahan yang sama.”
TIDAK ADA YANG BISA
“Hanya saya yang mampu mengerjakannya,” kata seorang anak yang sombong.”Semua anak dikelasku tidak ada yang bisa. Guru-guru pun tidak bisa!” “Apa itu?” tanya temannya ingin tahu. “Membaca goresan pena tanganku!”
“Hanya saya yang mampu mengerjakannya,” kata seorang anak yang sombong.”Semua anak dikelasku tidak ada yang bisa. Guru-guru pun tidak bisa!” “Apa itu?” tanya temannya ingin tahu. “Membaca goresan pena tanganku!”
MEREBUT PEKERJAAN
Kepala Sekolah marah-marah ketika melihat lantai teras kelas III-B penuh kotoran.
“Siapa yang piket hari ini?” ia bertanya kepada para siswa yang berkerumun di depan kelas. Beberapa siswa eksklusif mengacungkan jari. “Kenapa kalian tidak menyapu lantai teras kelas ini?” Salah seorang siswa bangun dan mencoba menjelaskan duduk perkaranya. “Maaf, Pak. Sewaktu akan saya bersihkan tadi, saya dipandangi terus-menerus oleh tukang kebun di sekolah kita, seperti saya dituduh merebut lapangan pekerjaannya, Pak. Ya, jadi saya tidak jadi menyapu pak!”
Kepala Sekolah marah-marah ketika melihat lantai teras kelas III-B penuh kotoran.
“Siapa yang piket hari ini?” ia bertanya kepada para siswa yang berkerumun di depan kelas. Beberapa siswa eksklusif mengacungkan jari. “Kenapa kalian tidak menyapu lantai teras kelas ini?” Salah seorang siswa bangun dan mencoba menjelaskan duduk perkaranya. “Maaf, Pak. Sewaktu akan saya bersihkan tadi, saya dipandangi terus-menerus oleh tukang kebun di sekolah kita, seperti saya dituduh merebut lapangan pekerjaannya, Pak. Ya, jadi saya tidak jadi menyapu pak!”
KASIHAN
Di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak, seorang guru sedang mengajarkan lagu, “Potong Bebek Angsa, Masak di Kuali … “ Semua anak ikut bernyanyi, tetapi Rini malah menangis tersedu-sedu. Ibu Guru pun bertanya, “Rini mengapa kau menangis? Ayo ikut menyanyi “Potong Bebek Angsa.” Tangisan Rini malah semakin keras, “Ibu guru jahat! Ibu guru kejam! Kasihan bebeknya!” teriak Rini.
Di sebuah sekolah Taman Kanak-Kanak, seorang guru sedang mengajarkan lagu, “Potong Bebek Angsa, Masak di Kuali … “ Semua anak ikut bernyanyi, tetapi Rini malah menangis tersedu-sedu. Ibu Guru pun bertanya, “Rini mengapa kau menangis? Ayo ikut menyanyi “Potong Bebek Angsa.” Tangisan Rini malah semakin keras, “Ibu guru jahat! Ibu guru kejam! Kasihan bebeknya!” teriak Rini.
GURU YANG MENYENANGKAN
Bono yang gres satu ahad ini masuk sekolah ditanya oleh gurunya. “Siapa guru yang paling menyenangkan disini?” “Anda, Pak Guru!” “Alasannya apa?” “Bapak jikalau memberi pelajaran enak sekali. Karena begitu enaknya, saya selalu mampu tidur bila Bapak menunjukkan pelajaran.”
Bono yang gres satu ahad ini masuk sekolah ditanya oleh gurunya. “Siapa guru yang paling menyenangkan disini?” “Anda, Pak Guru!” “Alasannya apa?” “Bapak jikalau memberi pelajaran enak sekali. Karena begitu enaknya, saya selalu mampu tidur bila Bapak menunjukkan pelajaran.”
NILAI 100
Mama….., Mama ….., hari ini saya dapat nilai 100 di sekolah,” kata Tejo kepada mamanya. “Nah gitu donk … itu gres namanya anak Mama yang jagoan. Pelajaran apa sih kok kau mampu dapat nilai seratus?” tanya ibunya. “Matematika 40, Bahasa 35, dan Sejarah 25.”
Mama….., Mama ….., hari ini saya dapat nilai 100 di sekolah,” kata Tejo kepada mamanya. “Nah gitu donk … itu gres namanya anak Mama yang jagoan. Pelajaran apa sih kok kau mampu dapat nilai seratus?” tanya ibunya. “Matematika 40, Bahasa 35, dan Sejarah 25.”
ORANG LAIN
Setelah menguraikan panjang lebar nasehat hidup yang baik kepada putrinya yang gres mulai bersekolah, sang ibu menutup dengan kesimpulan. “Kita hidup untuk selalu menolong orang lain.” “Lantas orang lain hidup untuk apa, Bu?” tanya si kecil.
Setelah menguraikan panjang lebar nasehat hidup yang baik kepada putrinya yang gres mulai bersekolah, sang ibu menutup dengan kesimpulan. “Kita hidup untuk selalu menolong orang lain.” “Lantas orang lain hidup untuk apa, Bu?” tanya si kecil.
NGGAK BELAJAR
Suatu hari di sebuah kelas, seorang guru menunjukkan pertanyaan pada murid-muridnya.
Guru : “Andi, ibukota Jawa Timur dimana?”
Murid 1 : “Surabaya, Pak!”
Guru : “Benar! Kamu Tejo, letak sungai Bengawan Solo dimana?”
Murid 2 : “Di Jawa Tengah, Pak!”
Guru : “Benar, Bono sekarang kamu, Jelaskan asal-usul Borobudur!”
Murid 3 : “Kenapa sich Bapak nanya terus? Tadi malem Bapak nggak berguru ya???”
Suatu hari di sebuah kelas, seorang guru menunjukkan pertanyaan pada murid-muridnya.
Guru : “Andi, ibukota Jawa Timur dimana?”
Murid 1 : “Surabaya, Pak!”
Guru : “Benar! Kamu Tejo, letak sungai Bengawan Solo dimana?”
Murid 2 : “Di Jawa Tengah, Pak!”
Guru : “Benar, Bono sekarang kamu, Jelaskan asal-usul Borobudur!”
Murid 3 : “Kenapa sich Bapak nanya terus? Tadi malem Bapak nggak berguru ya???”
PINTER SEMUA
Tejo pulang ke rumah dengan membawa buku rapornya. Nilai yang terpampang di buku rapornya itu semuanya bernilai 4 dan 5. Orang tuanya mulai memarahi Tejo, dan Tejo membela dirinya dengan berkata jikalau semua sobat di kelasnya mendapat nilai yang sama dengan dia. “Tidak mungkin! Tahu tidak, nilai sobat sebangkumu, Bono, semuanya 8 dan 9!” “Bono kan lain, Ma!” “Apanya yang lain?” tanya ayahnya. “Orang bau tanah Bono kan cendekia semua!”
Tejo pulang ke rumah dengan membawa buku rapornya. Nilai yang terpampang di buku rapornya itu semuanya bernilai 4 dan 5. Orang tuanya mulai memarahi Tejo, dan Tejo membela dirinya dengan berkata jikalau semua sobat di kelasnya mendapat nilai yang sama dengan dia. “Tidak mungkin! Tahu tidak, nilai sobat sebangkumu, Bono, semuanya 8 dan 9!” “Bono kan lain, Ma!” “Apanya yang lain?” tanya ayahnya. “Orang bau tanah Bono kan cendekia semua!”
MANA CUKUP
Di sebuah kelas Taman Kanak-Kanak
Guru : “Anak-anak, jikalau kalian mau buang air kecil kemana?”
Murid : “ke kamar kecil Bu Guru … (serempak)
Guru : “Bagus, jikalau mau buang air besar kemana?”
Murid : “Kamar besar Bu Guru … (serempak juga)
Guru : “Lho kok kamar besar, apa itu?!”
Murid : “Bu Guru … jikalau buang air “besar” di kamar “kecil” mana cukup???”
Guru : ?$!##@@%*^)
Di sebuah kelas Taman Kanak-Kanak
Guru : “Anak-anak, jikalau kalian mau buang air kecil kemana?”
Murid : “ke kamar kecil Bu Guru … (serempak)
Guru : “Bagus, jikalau mau buang air besar kemana?”
Murid : “Kamar besar Bu Guru … (serempak juga)
Guru : “Lho kok kamar besar, apa itu?!”
Murid : “Bu Guru … jikalau buang air “besar” di kamar “kecil” mana cukup???”
Guru : ?$!##@@%*^)
LUPA
Tejo sepulang dari sekolah bercerita pada kakeknya yang nggak pernah sekolah. “Kek … tadi Tejo dimarahin sama pak guru.” “Emang kau salah apa, Jo?” “Tadi Tejo nggak mampu jawab pertanyaan pak guru.” “Emang kau ditanya apa?” “Pak Guru tanya … dimana letaknya Jerman?” “Makanya, Jo … lain kali kalo kau meletakkan sesuatu jangan hingga lupa letaknya.”
Tejo sepulang dari sekolah bercerita pada kakeknya yang nggak pernah sekolah. “Kek … tadi Tejo dimarahin sama pak guru.” “Emang kau salah apa, Jo?” “Tadi Tejo nggak mampu jawab pertanyaan pak guru.” “Emang kau ditanya apa?” “Pak Guru tanya … dimana letaknya Jerman?” “Makanya, Jo … lain kali kalo kau meletakkan sesuatu jangan hingga lupa letaknya.”
KUCING YANG SAMA
Guru : “Tejo, Bapak ingin penjelasan kau perihal karanganmu, kenapa mampu sama persis dengan karangan Bono?”
Tejo : “Kami kan bertetangga, Pak!”
Guru : “Iya, tapi mengapa mampu sama persis?” Tejo : “Pak guru nggak tahu ya? Karangan itu kan menceritakan kucing yang sama, berarti isinya harus sama persis kan Pak?”
Guru : “Tejo, Bapak ingin penjelasan kau perihal karanganmu, kenapa mampu sama persis dengan karangan Bono?”
Tejo : “Kami kan bertetangga, Pak!”
Guru : “Iya, tapi mengapa mampu sama persis?” Tejo : “Pak guru nggak tahu ya? Karangan itu kan menceritakan kucing yang sama, berarti isinya harus sama persis kan Pak?”
TIDAK ADA PERUBAHAN
Guru : “Coba kamu, Tejo, tolong sebutkan lima sila Pancasila!”
Murid : “Ya Bu!” “Pancasila!” “Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa!” “Dua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab!” Tiba-tiba, murid tersebut lupa suara sila selanjutnya.
Guru : “Kenapa berhenti?”
Murid : “Sila ke-Tiga, ke-Empat, dan ke-Lima” masih sama dan tidak ada perubahan sama sekali, Bu!”
Guru : “Coba kamu, Tejo, tolong sebutkan lima sila Pancasila!”
Murid : “Ya Bu!” “Pancasila!” “Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa!” “Dua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab!” Tiba-tiba, murid tersebut lupa suara sila selanjutnya.
Guru : “Kenapa berhenti?”
Murid : “Sila ke-Tiga, ke-Empat, dan ke-Lima” masih sama dan tidak ada perubahan sama sekali, Bu!”