Aku manusia, bahkan cuma insan biasa.
Aku pernah menyakiti, akupun sering tersakiti. Seberapapun usaha untuk coba tidak menyakiti, terkadang masih terselip sikap dan perkataan yang secara tidak sengaja melukai. Ada juga kalanya terpaksa harus menyakiti, jalan terakhir dikala memang sudah tidak ada lagi solusi.
Tapi begitulah warna kehidupan, ada kebohongan, penghianatan, ketidakadilan dan macam-macam. Aku pernah mengecewakan, tidak jarang saya juga yang dikecewakan. Aku pernah meninggalkan, saya juga pernah ditinggalkan.
Ada yang mengatakan itu hukuman alam Tuhan. Tidak apa-apa silahkan. Tapi buatku bukan! Semua sakit-sakit yang kualami, luka-luka perih yang mereka beri, itu memang seharusnya terjadi, sebagai pelajaran terbaik mendewasakan diri.
Tanpa semua itu saya akan cuma ibarat telur. Dari luar terlihat keras padahal di dalamnya cair dan lentur. Sekali saja jatuh maka kulitnya akan hancur, isinya ikut melebur!
Dengan semua itu memang akan tetap ibarat telur, tapi telur yang bagus, telur yang telah direbus, digodok oleh panasnya penghianatan, perihnya ditinggalkan, sakitnya kecurangan. Sehingga dikala saya kembali jatuh, saya masih tetap utuh. Mungkin di kulit luar akan terlihat sedikit rusak, namun isinya tetap berpengaruh dan tak akan mudah retak!
