Cerita Dewasa: Pengorbanan Seorang Lelaki
"Abang.. Ibu minta uang hantaran-nya 10 juta," kata si gadis.
Lelaki di sampingnya seketika menoleh ke arah lain. Bukan bermaksud buang muka. Dia hanya aib jikalau wajahnya yang tiba-tiba memucat terlihat oleh gadis yang dicintainya itu. 10 juta, angka yang lumayan besar untuk ukuran lelaki miskin sepertinya.
"Bang! Dengar tidak sih?"
"Iya, abang dengar kok."
"Abang bisa menyanggupi uang segitu kan?"
Si lelaki berusaha tersenyum. "Inshaa Allah. Tapi mulai besok untuk sementara kita tidak bertemu ya."
"Kenapa?" si gadis bertanya dengan perasaan sedikit kaget.
"Abang mau merantau ke kota."
"Abang tidak sayang aku?"
"Sayang. Sayang banget...
"Lantas kenapa pergi?" si gadis menyerobot ucapan si lelaki.
"Kalau kau juga sayang abang, kau mau menunggu kan?"
Si gadis akibatnya mengangguk pasrah.
Selanjutnya, selama 8 bulan si lelaki tidak menemui gadisnya, beliau sibuk berkerja di kota. Sampai suatu hari si lelaki datang ke rumah si gadis.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam. Eh, Abang."
"Adik sehat?"
"Sehat, Bang."
"Cantik sekali cincin di jari adek. Kapan beli?"
"Emm... Maafin aku, bang. Ada yang sudah meminang aku. Abang terlambat."
Sesaat si lelaki tercekat, setelah itu eksklusif beranjak pergi tanpa pamit.
Keesokan harinya si gadis mendapat sebuah kado. Dalam kado itu ada sepucuk surat.
'Assalamualaikum...
Dek... Maaf atas perlakuan abang semalam yang kurang sopan. Maafkan abang juga terlambat meminang adek. Di dalam kado ini ada uang 10 juta dan juga cincin. Gunakanlah untuk perkawinan adek nanti.
Selama 8 bulan kemarin abang sengaja tidak berkabar. Abang sibuk mengumpulkan sejumlah uang yang telah ibumu tetapkan. Abang fokus bekerja siang malam merintis usaha kecil-kecilan di kota. Tadinya abang pikir setelah kita menikah, sudah ada sumber rezeki yang bisa menompang kehidupan rumah tangga kita.
Selain itu, bekerjsama abang juga ingin menguji hingga sejauh mana kesetiaan dan kesabaran adek menanti kepulangan abang. Tapi ya sudahlah... Tidak lama lagi adek sudah menjadi istri orang. Abang harap adek bisa menjaga kekerabatan rumah tangga sebaik mungkin. Satu saja pesan Abang, lihat keadaan suami, jangan meminta sesuatu yang di luar kemampuan dan kewajibannya, alasannya ialah itu bisa saja membuatnya sangat tertekan.
