Cerita Humor Lucu Penghilang Stress yang Selalu Menemani Sepanjang Hari

Ketika Rasa Menjadi Kata


Jenuh

Sudah berjam-jam saya memandang kau di sini. Iya, hanya memandang. Sebab kau mengabaikanku, tidak menghargai hadirku. Sedikitpun tidak ada instruksi kau akan mengajakku bermain.

Kita memang berdua, tapi masing-masing. Kau meminta diperhatikan, tetapi saya juga merasa bahwa saya tidak diinginkan. Berhari-hari kau mengabaikanku. Apa-apa yang kulakukan semua salah.

Di matamu, saya hanya beban yang sangat ingin kau singkirkan. Entah apa memang benar saya yang salah atau kau yang enggan mengalah.

Padahal, harapku kita berjalan sejajar, berdampingan, setapak demi setapak. Bukan kau di depan, saya di belakang. Bukan kau berlari, saya tertatih. Kau yang selalu menang dan saya pasti kalah.

Bukan dongeng menyerupai itu. Permainan tarik ulur menyerupai ini sangat tidak lucu, Sayang. Untuk apa kau melakukannya? Menguji besarnya cintaku? Atau hanya ingin membuatku bosan, kemudian memilih pergi? Kau pasti di salah satunya.

Daripada begini, saling membuang waktu, lebih baik katakan saja bagaimana inginmu. Salah kalau kau berpikir hanya kau yang jenuh. Salah kalau kau menganggap dirimu terlalu berharga untukku. Aku juga jenuh, sayang. Dan saya juga berharga.

Tetapi perasaan sayang yang menyelamatkanku dari kejenuhan itu. Juga cinta dalam dada yang menjadikanmu lebih berharga dari rasa egoisku di kepala. Pergilah kalau saya bukan pintamu. Mari lakukan hal yang semestinya kita lakukan. Lenyapkan jenuhmu. Aku akan membunuh cintaku. Tak usah memikirkan perasaanku, saya cukup tabah.

Di dongeng sebelumnya, saya sudah pernah patah sebegitu parahnya. Menurutku, patah hati terparah yaitu ketika yang terpercaya berubah arah. Lepaskan saja kalau memang kau ingin lepas. Perihal sesaknya, biarlah itu menjadi urusanku.

Namun ketauhilah, Sayang, apa-apa yang telah saya buang, kau tak kan mampu pulang. Meskipun begitu banyak tualang, saya tak kan ingin mengulang. Pikirkan dengan kepalamu, tanyakan pada hatimu, apa kita memang harus berakhir begini? Sebab apa yang telah kau sudahi, tak kan mampu kembali.


Kau Hanya Harus Menjawab.

Tidak ada yang benar-benar betah dikala menunggu. Prasangka buruk akan selalu saja mengganggu. Kamu yang dinanti, jangan seakan tidak peduli. Yang kukorbankan memang bukan materi. Tetapi waktu yang tak mampu kembali. Tak usah membalas perasaan ini kalau memang tak bisa. Cukup katakan saja sebaiknya saya harus bersikap bagaimana. Tetap menunggumu, atau meneruskan langkah meninggalkanmu.

Bertahan dalam tunggu di waktu yang tidak sebentar, itu bukan prestasi, Sayang. Jangan menyia-nyiakan hidup seseorang terlalu lama. Banyak hal yang bergotong-royong mampu saya dapatkan, namun memilih membuangnya untukmu. Penantian atas nama cinta.

Terkadang, saya sangat lelah. Ingin sekali menyerah. Namun ketika kulihat lagi ke belakang, sudah berapa lama saya mengorbankan waktuku untukmu, hatiku seakan menegaskan, “Jangan berhenti sekarang. Mungkin harapmu sebentar lagi menjadi nyata...”Sehingga saya memilih, bertahan dalam keterpaksaan.

Bukan saya mengharapkan balasan. Bukan saya tak lapang dada menunggumu. Tetapi, bayangkan saja bila kau jadi aku. Tunggumu tak dihargai. Korbanmu tak terlihat. Dan waktumu terbuang sia-sia. Menurutmu bagaimana? Mudah? Tak perlu dijawab. Cukup rasakan saja. Bahwa kau seberharga itu. Sedang saya semenyedihkan ini.

Jadi, sayang. Kali ini saya akan bagaimana? Tetap bertahan atau harus pergi dari hidupmu? Bantu saya memecahkan masalah ini. Apapun jawabmu, saya terima sepenuhnya. Jangan terbebani dengan rasa takut menyakiti. Sebab rasa sakit akan sembuh. Hidup kita masih panjang. Masih banyak yang harus kita urusi. Jadi, pastikan pilihanmu tidak berbuah penyesalan....

******
Pengirim: Fitriyatun Zakiyah

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Ketika Rasa Menjadi Kata