Sebuah dongeng yang penuh inspirasi. Jangan Tunggu Sampai Dilempar Batu
Di sebuah gedung perkantoran mewah 10 tingkat, terdapat seorang cleaning service muda sebut saja namanya Sudrun Pattinson. Jenis kelamin laki-laki dan gres aja sarapan bubur. Umurnya kira-kira 25 tahun. Ia yaitu pejabat senior cleaning service di lantai satu. Sudah cukup lama Sudrun bekerja di sana kurang lebih 40 tahun.
Dalam hati Sudrun bantu-membantu sudah bete banget dengan pekerjaannya tersebut. Dari dulu kariernya segitu-gitu mulu. Ia ingin jabatannya dinaikkan. Selama ini ia hanya cleaning service lantai satu. Ia berharap jabatannya mampu naik menjadi cleaning service lante 2. Pokoknya pengen jadi atasan. Pengen banget! Sudrun lupa, ia bete dengan pekerjaannya, sementara di banyak kawasan ribuan orang justru bete sebab tak kunjung dapat kerjaan. Lagipula jadi 'atasan' itu tidak selalu enak, digantung di pasar-pasar, harganya juga paling 20 rebu nego. Hehe.
Suatu pagi, selagi Sudrun terlena menyapu lantai, bos-nya yang berada di lantai 19 memanggilnya dengan lembut dan sopan. Akan tetapi Sudrun tidak mendengar panggilan tersebut. Dipanggilnya Sudrun sekali lagi, kali ini dengan teriakan, tapi barangkali sebab berjarak cukup jauh dan keasyikan berkerja, Sundrun tidak mendengar atau entah akal-akalan tidak mendengar.
Lalu atasannya menjatuhkan uang logam ke hadapan Sudrun. Sudrun memungut koin tersebut, memasukannya ke saku, lalu meneruskan pekerjaannya tanpa mau menengok ke atas. Merasa dikacangin, si bos kemudian menjatuhkan uang 50.000. Mendapat uang sebanyak itu, dengan girangnya Sudrun mengambil uang tersebut dan pribadi dimasukkan ke kantong, kemudian kembali sibuk berkerja. Sudrun nggak mikir dari mana uang itu berasal.
Akhirnya, sang atasan mengambil kerikil kecil, dilemparkan kepada Sudrun dan sukses mengenai kepalanya. Pletak! Begitu bunyinya. Merasa kesakitan, barulah Sudrun menengok ke atas.
Sudah. Anggap saja lucu.
Cerita tadi memang bukan dongeng lucu, itu hanya semacam ilustrasi, yang jikalau mau merenungkannya, bukankah yang menyerupai itu kerap terjadi pada kehidupan kita?
Tuhan seringkali menyapa kita dengan lembut, tapi kita terus saja sibuk dengan urusan-urusan duniawi. Kita dianugerahi kesehatan, dijatuhi rizeki, diberi udara gratis, dan aneka macam limpahan rahmat lainnya, tapi kita sering lupa untuk sejenak bersyukur, yang membuat kita semakin jauh dari-Nya. Nah, di dikala diberi cobaan, di dikala merasa kesakitan, barulah kita ingat dan menengadah ke di atas.
Sungguh, sesungguhnya Allah itu sangat mencintai kita. Cobaan-cobaan kecil yang terjadi pada kita yaitu cara Allah semoga kita mau sejenak menengadah ke atas dan ingat kepada-Nya. Oleh sebab itu, mari semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, supaya kita mampu mendengar lembutnya panggilan-panggilan-Nya. Mari sesering mungkin mengingat-Nya, sebelum Ia melempar kerikil kecil kepada kita.
Dan jangan bandel, segeralah perbaiki diri ketika kita dilempar kerikil kecil, jangan tunggu hingga dilempar dengan kerikil yang lebih besar.
Tidak bermaksud menggurui ya. Cerita ini juga mungkin sudah basi, teman-teman mungkin pernah mendengar dengan versi penyampaian yang berbeda. Tapi tentu tidak ada salahnya untuk saling mengingatkan, sebab insan yaitu tempatnya salah dan lupa.
#SalamTampan
