Kenalkan...
Saya Zuki. Saya dilahirkan di Aceh oleh Ibunda aku dengan perasaan bahagia. Makara buat yang masih menduga aku lahir di Amerika atau Korea, kalian udah salah besar kawan. Jangan menilai seseorang cuma dari tampang doang!
Iya bener Aceh, tepatnya di sebuah pedalaman kabupaten Aceh Barat. Kalau dari Kota Meulaboh sekitar 1 jam ditempuh dengan motor, tapi mampu hingga dua tiga jam jika dalam perjalanannya kau kena razia polisi, mampir ngopi, ban bocor, spion konslet, rantai putus dan sebagainya. Buat teman-teman yang sesama aneuk nanggroe, peu haba Syedara?
Selain lahirnya di Aceh, aku juga lahirnya disayang-sayang, dibuai-buai, dipeluk, dicium. Ada kan ya bayi-bayi yang lahirnya di Sorong. Yang paling kasihan tuh yang lahirnya di Palu. Hadoh!
Apa banget.
Jalan hidup aku memang cukup keras dan panjang, mungkin dulu pas brojol yang jadi dukun bayinya Mak Errot. Keras di sini maksudnya, waktu di Aceh rumah aku berada di zona perang. Trus waktu pertama kali pindah ke Pekanbaru, kondisi keuangan keluarga aku benar-benar krisis parah, bahkan aku sempat putus sekolah.
Dan panjang yang aku maksud adalah, aku lahir di Aceh, besar di Pekanbaru. Udah begitu aku pernah mengembara naik elang nyari kesaktian ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, Lampung, tanah Jawa, paling jauh ke pulau Borneo; Banjarmasin dan Tabalong. Semoga tidak berhenti hingga di situ. Nanti aku pengen nikah di Paris trus bulan madu di Bali.
Sementara, Ayah dan Ibu aku yaitu orang Blitar asli 24 karat! Makara dalam diri aku ini kental darahnya Jawanya, kadang jika mimisan yang keluar keris sama kuda lumping.
Dan jika menurut sejarah keluarga, orang renta aku dulu waktu pacaran sempat LDR-an. Bapak di Aceh, Emak di Jawa. Karena jaman dulu belum demam isu SMS, BBM, WA dan sebagainya, Bapak ngasih perhatian ke Emak lewat surat pos, yang nyampenya mampu satu minggu: "Sayang... Seminggu yang lalu kau sudah makan belum?"
Tapi ngomong-ngomong aku suka iri sama Ayah saya. Saya lihat ayah aku dalam hidupnya begitu gembira dan bahagia, dikarunia anak yang keren serta rajin menabung. Bagaimana aku tidak iri coba, belum tentu lho kelak aku mampu punya anak ganteng ibarat yang ia miliki ketika ini. Mungkin dulu pas aku masih dalam kandungan, waktu hari pembagian wajah buat calon anak, ayah aku datangnya cepet, hasilnya mampu dapet yang bagusan begini. Mungkin...!!!
"Ayah..." kata aku suatu hari.
"Iya.." jawab Ayah hari itu juga.
"Boleh aku nanya satu hal?"
Ayah cuma mengangguk sebagai jawaban.
"Tapi Ayah harus jawab jujur?"
"Okay. Mau nanya apa?"
"Gini, Yah. Rasanya punya anak yang ganteng itu ibarat apa sih, Yah?"
Ayah aku pribadi buang muka. Beberapa ketika kemudian, dengan bijaksananya ia menjawab: "Rasanya punya anak ganteng? Emm.. Ayah tidak tau, Zuk. Coba kau tanya aja ke kakekmu. Dia lebih tau...
Saya muntah obeng bunga!