Cerita Humor Lucu Penghilang Stress yang Selalu Menemani Sepanjang Hari

Cara Bayudida Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus)

Bayudida Cacing TanahCacing bagi sebaian orang mungkin jadi binatang yang menjijikan. Namun ternyata Cacing tanah ( Lumbricus Rubellus ) hewan invertebrata atau tak bertulang belakang ini mampu jadi komoditas yang menguntungkan serta memiliki peluang bisnis yang cukup menjanjikan.
Kandungan protein yang tinggi membuat cacing tanah cocok untuk menggemburkan tanah. Selain itu, cacing juga dapat dijadikan materi pembuatan obat, kosmetik, pelet ikan, pakan Ternak Belut,Unggas, dan lain sebagainya.

Bagi Anda yang tertarik untuk mencoba Budidaya atau ternak cacing Lumbricus Rubellus Kali ini saya akan mencoba Share infonya.Semoga Bermanfaat!!

Tahap awal untuk melaksanakan ternak atau budidaya cacing tanah lumbricus rubellus kita harus menyediakan media atau sarang untuk bibit cacing, media perlu diukur PH tanah dengan kertas lakmus dan suhu dengan thermometer, untuk mengetahui ukuran PH dan suhu silahkan lihat di sini kawasan hidup cacing, apabila alat pengukur tidak ada kita dapat melaksanakan pengetesan media dengan cara yang sangat sederhana, yaitu, masukkan bibit sedikit demi sedikit, antara 5-10 ekor bibit.

Bila media atau sarang tersebut memenuhi syarat, tidak mengandung materi beracun, zat-zat kimia yang tidak disukai cacing atau PH-nya terlalu tinggi atau terlalu rendah maka cacing tidak akan mau bersarang dan akan tetap berada dipermukaan media.

Untuk mengetahui media yang memenuhi syarat untuk hidup cacing silahkan baca di sini media untuk cacing.

Untuk mengatasi hal tersebut, sebaiknya media yang demikian diproses lagi (disiram air dan disaring, hingga tidak ada air yang berwarna cokelat menetas). Ingat media harus selalu dalam keadaan berair tetapi tidak tergenang air. Bila tidak, harus dibuatkan kembali media yang baru.

Untuk mengetahui apakah media sudah memenuhi syarat atau belum bila dalam waktu 12 jam cacing tetap hening di dalam media, itu membuktikan bahwa cacing tetap betah dan cocok hidup di media tersebut. Kemudian hamparkan bibit cacing yang lain secara merata di atas media. Setelah itu tutup bak-bak tersebut dengan menggunakandaun pisang, kertas Koran atau plastik, yang bertujuan untuk mengurangi penguapan dan sinar matahari.

Setiap kolam berupa bejana plastik atau besek berukuran 50 x 40 x 30 cm dapat menampung kurang lebih 1 ons bibit cacing atau sekitar 100-130 ekor bibit. Sebagai perbandingan, dari tumpuan sebuah media (Koran) seorang peternak menebarkan bibit cacing tanah sebanyak 0,50 kg untuk kolam ukuran 1 meter persegi.

Pakan Cacing Tanah
Walaupun media atau sarang juga berfungsi sebagai sumber makanan akan tetapi dengan berkembangnya cacing perlu juga diberi makan pelengkap dan perlu diperhatiakn bahwa cacing tanah yakni binatang yang senang makanan yang ada dipermukaan sarangnya. Cacing tanah menghabiskan   makanan sama dengan berat badannya dalam 24 jam.

Porsi makanan yang diberikan menggunakan contoh makanan sama dengan berat tubuh cacing dalam 24 jam, kalau dalam satu kolam terdapat 1 ons cacing, maka porsi makanan yakni 1 ons dalam 24 jam. pemberian pakan diusahakan dalam bentuk larutan/bubur, dengan perbandingan air: makanan = 1 : 1.

Selama sarang atau media tersebut masih memenuhi syrata sebagai sumber makanan, makanan pelengkap tidak perlu diberikan. Tetapi biasanya setelah 1 (satu) bulan, diberikan pakan tambahan.

Pemberian makanan, yang paling ekonomis yakni pemberian makanan yang berupa sampah organic atau sampah dapur, kotoran ternak (ayam, sapi, kerbau, kelinci). Kotoran yang dipakai untuk pakan sebaiknya yang sudah matang, sebab kotoran yang masih segar masih mengalami proses penguraian sehingga masih panas. Perlu didiamkan beberapa hari dulu supaya menjadi matang. Dianjurkan menunjukkan makanan secara bertahap, jangan sekaligus. Karena bila terlalu banyak mampu menimbulkan temperature menjadi naik dan cacing tanah mampu mati.

Untuk produksi kokon (telur), pakan yang diberikan dapat berupa satu macam kotoran hewan yang sudah matang tanpa campuran apapun atau kotoran hewan dengan kompos hijau (dari tanaman atau daun-daunan) denagn perbandingan 30:70.

Untuk menghasilkan cacing tanah yang gemuk, maka pakan harus terdiri atas kotoran hewan dicampur kompos hijauan dengan perbandinagn 2:1 atau dapat juga diberikan kompos hijauan dengan bubur kertas bekas, denagn perbandingan 1 : 1.

Untuk meningkatkan kualitas cacing, materi makanan mampu ditambahkan dari campuran dedak atau konsentrat yang juga dihancurkan. Makanan ini perlu dihancurkan semoga bercampur dengan media (lapisan) yang menjadi kawasan berkembangnya cacing.

Yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan pada cacing tanah yakni sebagai berikut:

Pakan yang berupa kotoran ternak dimasukkan ke dalam wadah kemudian dicampur dengan air dan diaduk sehingga hancur berupa bubur. Bubur pakan ditaburkan merata tipis-tipis diatas media, tetapi tidak menutupi seluruh permukaan media, sekitar 2-3 cm dari tepi wadah/bak tidak ditaburi pakan. Seluas yang ditaburi pakan ditutupi dengan plastik atau pelepah pisang yang tidak tembus cahaya. Lakukan pemeriksaan besoknya, apakah pakan itu habis dimakan atau tidak. Untuk pemberian pakan berikutnya, apabila masih tersisa terlebih dahulu harus diaduk dan jumlah pakan yang diberikan dikurangi.
Pekerjaan pemberian pakan, dilakuakn tiap hari hingga cacing tanah itu dipanen

Perkembangbiakkan Cacing Tanah
Cacing tanah yakni hewan yang memiliki dua kelamin dalam satu tubuh, jantan dan betina (hermaphrodite), akan tetapi tak dapat membuahi dirinya sendiri. Pembuahan tidak akan terjadi tanpa adanya pinjaman cacing lain. Perkawinan dilakukan dengan cara meletakkan episode belakang denagn posisi yang saling berlawanan dan diperkuat dengan seta. 

Pada dikala itu klitelium (alat kelamin) masing-masing mengeluarkan lendir untuk melindungi spermatozoa yang dihasilkan oleh alat kelamin jantan masing- masing spermatozoa lalu masuk kedalam kantung penampung sperma dari pasangannya, selanjutnya membentuk selubung cocon (telur cacing) yang bergerak ke arah mulut.

Pada waktu melalui lubang penampungan sperma masuklah spermatozoa ke dalam cocon dan terjadilah pembuahan, selubung cocon harus bergerak ke arah lisan hingga terlepas dari cacing tanah dan membentuk cocon. Cocon kemudian dilatakkan di kawasan yang lembab dan akan menetas dalam waktu 14-21 hari kemudian.

Setiap cocon menghasilkan antara 4-7 ekor cacing. Cacing tanah menjadi bakir balig cukup akal setelah berumur 2-3 bulan dan siap berkembang biak. Setiap 7-10 hari cacing tanah akan menghasilkan 1-2 cocon. Diperkirakan seekor cacing tanah akan menghasilkan 1000 ekor anak dalam setahun. Dari beberapa tumpuan menyebutkan perkembangbiakkan cacing tanah yang diternakkan relative lebih produktif, berbeda dengan  di alam bebas, yang banyak mengalami gangguan binatang lain.

Cara Pemeliharaan Cacing Tanah
Cacing tanah merupakan binatang yang takut akan sinar, sebab itu wadah berupa kolam harus ditempatkan pada kawasan yang teduh dan kalau perlu ditutup, terutama pada siang hari. Apabila menggunakan kolam permanen  sebaiknya pembuatan kolam ditempat teduh, misalnya dibawah pohon dan diberi pelindung atap genteng, supaya tidak kena hujan dan sinar matahari langsung.

Di dalam pemeliharaan, sarang atau media cacing tanah harus dijaga kelembapannya, dengan cara diperciki air setiap hari. Penyiraman diupayakan semoga air tidak tergenang dan setelah itu bak-bak selelu ditutup dengan daun pisang., plastik kertas Koran atau karung goni yang telah dibasahi. Disamping itu, pemeliharaan yang perlu dilakukan yakni menghindarkan cacing dari gangguan binatang ibarat semut, cecak, tikus, lintah, kecoa, dll.

Dengan penyiraman dan penggemburan dapat menghindarkan cacing dari gangguan tersebut, atau bak-bak dapat ditutup denagn kasa yang halus. Bila menggunakan kolam dari bejana plastic, besek yang berada di rak tersusun, untuk menghindari semut, kaki rak diberi tatakan (mangkok, yang diisi olie, air atau serbuk kapur anti semut).

Setelah dua ahad dari masa peletakkan pertama, induk-induk cacing dipindahkan ke media lain sambil menanti kokon-kokokn itu menetas.  Begitu juga setiap 2 ahad berikutnya, induk-induk cacing yang sudah bertelur dipindahkan ke media lain. Perlakuan ini juga untuk belum dewasa cacing yang telah berusia 3,5 bulan dan mulai bertelur. Cara memindahkan induk cacing mampu denagn cara pribadi mengaduk-ngaduk media dalam “kandang”, mampu juga dengan meletakkan makanan di salah satu sudut sangkar hingga induk cacing akan mudah berkumpul dan mudah dipindahkan.

Selama masa pemeliharaan, cacing-cacing itu dibagi dalam beberapa fase:

Fase pertama  : Perkembangan , dimulai semenjak kokon (telur) menetas menjadi anak cacing hingga usia 2,5 bulan atau 3,5 bulan. Pada usia ini cacing mampu dijual untuk indukan atau bibit.

Fase kedua: usia 4 hingga 7 bulan, yang merupakan masa produktif cacing menghasilkan kokon.

Fase ketiga : usia 7 bulan ke atas, yang sudah tidak produktif lagi.

Cacing-cacing dalam ketiga fase itu semuanya laku dijual dan tentu saja harganya berbeda-beda. Cacing pada fase pertama, biasanya dikonsumsi oleh para peternak cacing untuk  dijadikan indukan. Sedangkan cacing usia fase kedua, lebih banyak dikonsumsi untuk pabrik obat. Dan cacing usia fase ketiga dipakai untuk makanan (pellet) ikan lele. Kalau untuk campuran materi kosmetik, biasanya dimabil dari usia 4 bulan ke atas, sebab kadar crude oil-nya cukup baik.

Hama Cacing Tanah
Selain pemeliharaan  yang telah diuraikan diatas, ada satu hal yang tidak kalah penting yakni pemeliharaan untuk menghindari cacing dari hewan pengganggu,  ibarat kodok, ayam, tikus, semut, kelabang, lintah dan lain-lain. Hama – hama tersebut dapat menghabiskan cacing-cacing atau kokon yang ada denagn banyak sekali cara, sehingga dapat menggagalkan usaha budidaya ini.

Kodok/katak
Salah satu makanan yang  disukai katak yakni cacing, yang perlu diwaspadai apabila ruangan yang digunakan untuk beternak dihalaman yang menggunakan landing dari kolam tembok, untuk mencegah semoga katak tidak dapat meloncat masuk kandang, sebaiknya sangkar diberi tutup kawat kassa dengan lubang yang agak lebar, supaya sirkulasi udara sangkar tetap terjaga, tetapi katak tidak dapat masuk ke dalam bak. Berbeda hal nya, bila menggunakan ruangan ( iin door), hal ini kemungkinan katak masuk rumah/ruangan sangat kecil.

Ayam
Demikian pula perlakuan untuk menghindari semoga ayam tidak dapat masuk sangkar cacing, untuk kolam permanen yang tentu saja mudah bagi ayam untuk memangsa cukup aman bagi ayam untuk mampu mengganggu.

Tikus
Baik lokasi ternak diluar maupun didalam ruangan, kedua-duanya sangat memungkinkan bagi tikus, yang merupakan salah satu musuh cacing tanah ini, untuk lokasi yang ada didalam ruangan, denagn system rak susun, paling tidak akan terhindar dari seranagn tikus, namun perlu juga dipuyakan dipinggir-pinggir lantai ruangan mampu ditaburkan kamper/kapur barus, dengan wangi kamper dapat menghindari adanya tikus. Usaha lain dapat memasang perangkap tikus dari materi lem atau jepitan tikus, atau mampu juga menggunakan serbuk racun tikus.

Semut
Predator yang satu ini, memiliki kelebihan pada penciuman, sehingga apabila ada wangi cukup merangsang bagi penciuman semut, dalam waktu yang singkat, semut-semut akan berdatangan. Namun usaha pencegahan terhadap semut ini, relative gampang, yakni dengan cara setiap kaki rak susun diberi tatakan plastic kenudian di isi olie atau mampu menggunakan solar, minyak goring.
atau lintah

Sumber : Buku Budidaya CACING TANAH LUMBRICUS RUBELLUS, Penerbit CV. ANEKA Solo

Kalau artikel ini bermanfaat bagi Anda, tolong share keteman anda melalui google plus [g+] dengan cara mengklik tombolnya di episode bawah halaman ini.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Cara Bayudida Cacing Tanah (Lumbricus Rubellus)