Rasulullah SAW bersabda : “Sungguh seorang insan akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana saya mampu mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Tuhan yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu. [HR Ahmad]
Tambahan penting...
Anak yakni kebanggan orang tuanya dan setiap orang bau tanah ingin memiliki anak yang mampu dibanggakan. Tuhan SWT berfirman : “Harta dan belum dewasa yakni komplemen kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang awet dan shaleh yakni lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS al-Kahfi: 46)
Namun kenyataannya tidak semua anak demikian. Di ayat yang lain Tuhan SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kau terhadap mereka…” (QS At-Taghabun:14)
Terlepas dari besar hati atau tidaknya orang tua, maka hal yang urgent yakni melihat sisi mana yang menjadi pujian orang tua. Sebab dari sinilah muncul permasalahan besar.
Begitulah risikonya kalau orang bau tanah terobsesi dengan prestasi dan kompetisi anak. Maka ketahuilah bahwa kebijaksanaan kompetisi dalam pendidikan yakni kebijaksanaan yang menyesatkan. Anak berprestasi itu tidak diukur dari jumlah juara dan piala. Alfie Kohn di tulisannya berjudul The Case Against Competition. Setelah melaksanakan kajian terhadap riset di bidang psikologi, sosiologi, pendidikan, biologi dan bidang lainnya, dia menyimpulkan bahwa kompetisi pada dasarnya buruk. Kompetisi yang sehat dalam pendidikan yakni istilah yang rancu dan kontrakdiktif. Kompetisi pada harga diri anak menyerupai gula pada gigi. Seperti semakin banyak gula maka semakin rusak gigi, begitu pula dengan kompetisi, semakin banyak diikuti semakin merusak harga diri anak. Sebab kepercayaan yang tertanam pada anak yakni “Menjadi baik tidaklah cukup, bila tidak mengalahkan semua lawan”.
Lain halnya dengan dongeng berikut. Suatu hari seluruh orang bau tanah murid diminta datang ke sekolah anaknya untuk melihat hasil belajarnya. Anaknya maju ditemani seorang pria, yang ternyata guru ngajinya. Anak itu berkata : Ayah, saya ingin membaca Surah Al Kahfi. Dengan bunyi indahnya sang anak mulai melantunkan ayat demi ayat. Ketika sang guru bertanya: Kenapa kau mengaji? Sang anak menjawab : Aku ingin menjadi anak shaleh yang mampu mendoakan kedua orang tuaku masuk Surga. Semua orang bau tanah yang hadir bergetar hatinya dan melinangkan air mata, begitu juga ayahnya, Ia lebih tersentak hatinya. sambil menangis tersedu, Ia memeluk anaknya. lalu berbicara : Saya menyekolahkan anak ini, dengan impian ia menjadi orang yang pintar, mahir dan kaya biar kelak ia dapat membahagiakan kami dengan hartanya. Namun hari ini anak saya membuktikan, hatinya jauh lebih mulia dan jauh lebih hebat, karena mengharapkan kami, orang tuanya masuk Surga. Subhanallah.
Benarlah hadits Nabi yang berbunyi: Anak yang shaleh yakni wewangian dari surga. [Faidlul Qadir]. Anak yakni harta yang paling berharga. Alangkah Indahnya apabila kita mempunyai anak mirip mereka yang tidak hanya menjadi pujian di dunia tetapi juga di alam abadi kelak mirip keterangan hadits di atas. _Wallahu A’lam_.