Keajaiban Cinta
Oleh : Dina Sekar Ayu
Kisah seorang gadis yang kehidupannya tak seberuntung teman-temannya. Sebut saja namanya Ayu, semasih ayu duduk dibangku SD tak ada yang beda dari kehidupan ayu. Dia sekolah sama ibarat teman-teman yang lain, setelah lulus SD ia melanjutkan ke tingkat SMP.
Secara fisik tak ada yang beda dari dirinya. Ayu bersekolah selayaknya teman-teman yang lain, ayu tak malu bergaul sama teman-temannya dan ayu tak pernah membeda-bedakan teman.
Satu tahun berlalu naiklah ayu ke kelas 2 SMP. Awal itu lah kehidupan ayu berubah, ayu jatuh sakit dan ayu tak sama ibarat teman-teman yang lain. Ketika pelajaran dimulai ayu mengikuti nya dengan tenang, namun ditengah jam pelajaran, ayu mencicipi sakit dan ayu hanya mampu menahan dan berkata didalam hatinya, “ya Allah sakit sekali”, hingga alhasil badan ayu pun tumbang diantara bangku-bangku kawasan duduknya.
Pecah lah suasana berguru menjadi suasana gelisah semua sahabat dikelas ramai tak terkendali, “ayu bangkit ayu bangun, bangun” hanya bunyi itu lah yang didengar oleh ayu. Diangkatlah ayu ke ruang UKS ditemani satu sahabat dan guru-guru, selang beberapa jam ayu alhasil sadar dan hanya kata terimakasih dan senyum yang muncul dari bibir ayu, dan alhasil dibawalah ayu pulang dan tidak melanjutkan pelajaran.
Namun tak hingga disitu, hari demi hari sakit ayu tak kunjung sembuh dan tambah parah. Dibawanya ia berobat, dan disitu ayu tau bahwa umurnya tak lama. Dari kelas dua SMP hingga ia SMA ayu menjalani hidup dengan penuh kesabaran, ketabahan dan iklas. Tak sedikit orang yang mencemoohnya dengan kata “ayu gila, ayu gila”.
Namun tak banyak kata yang ia lontarkan terhadap teman-temannya, ia hanya berdoa dalam hatinya “oh Allah hamba tidak gila hamba bukan orang gila, sabarkan hamba, lindungi hamba, sembuhkannlah hamba dan ampunilah dosa-dosa sahabat hamba”.
Selama itu ayu menjalani hidup tanpa mengalah ayu bertekad dalam hatinya “aku harus bisa, dan saya harus kuat”. Dan ayu membuktikan dirinya bahwa ia bukan orang gila dengan ia berprestasi dalam pendidikannya.
Setiap hari hayu tak henti-hentiya berdoa dan berdoa untuk kesembuhannya. Lalu alhasil terlontarlah kata dari mulutnya “Tuhan jikalau engkau meridhoi hamba untuk meninggal, hamba iklas cabutlah nyawa hamba dan tenangkanlah hamba disisimu Tuhan”.
Itulah bentuk putus asa ayu terhadap keadaanya. Namun ayu menjalani hidupnya dengan damai dan berusaha semoga ibarat sahabat yang lainya, hingga ayu menginjak umur 17 yang masih duduk di kursi SMA, dan pada ketika itu lah, sakit ayu parah, parah sekali. Ayu jatuh pingsan, ayu tak sadarkan diri. Dan keadaan rumah pun menjadi geger tak karuan, kumpul semua keluarga, ibu ayu, nenek, kakek, om, tante semua saudara-saudara ayu. Semua menagis, menangisi ayu yang tak kunjung sadar, ibu menangis, nenek, kakek semua menangis, “ayu sadar ayu sadar ibu disini ayu”, kata ibu.
Dalam ketidak sadaran ayu ia masih dengar bunyi tangisan keluarga, ia berdo’a dalam hatinya “Tuhan ampunilah hamba, hamba tak sanggup meninggalkan ibu dan keluarga hamba, hamba sangat cinta dan sayang keluarga hamba sadarkanlah hamba Tuhan”, menetes lah air mata ayu. Dan rasa syukur untuk Tuhan, sebab tak lama Ayu alhasil sadar, semua keluarga memeluk ayu dan tak henti-hentinya mengucap syukur.
Namun hanya senyum yang Ayu berikan dan ia berkata “ibu saya tidak apa-apa”. Bergantilah hari demi hari ayu menjalani hidup ibarat biasa dengan sakitnya. Keberuntungan mendatangi ayu, ayu yang bersabar atas sakitnya,datanglah seorang pria yang ingin mencintainya.
Namun Ayu tak menerimanya begitu saja ayu berkata “aku sakit, saya tak pantas untuk kamu, saya tidak mau kau susah mencintaiku karna saya sakit berhentilah mencintai aku” sembari meneteskan air mata. Dan dengan ketenangan hati pria itu ia menjawab “aku mendapatkan kau apa adanya saya lapang dada cinta kamu, dan saya yakin kau akan sembuh”. Sungguh keajaiban cinta, Ayu menerimanya dengan rasa cinta yang lapang dada pula.
Dan alhasil Ayu menemukan cinta sejatinya dengan seorang pria dan ia hidup bahagia dengan kesembuhannya. Tak henti-hentinya ayu mengucap syukur atas nikmat dan rezki yang Allah berikan karna Allah telah menawarkan cinta sejatinya dan kesembuhannya.
Cerpen : Keajaiban Cinta
Tags :
Cerpen